BERITA

Link Terkait







Qurbanku Wujud Cintaku Pada Ilahi

Oleh : Drs. H. Sholahuddin, M.Pd.I*

 

 

            Assalammualaikum Wr.Wb

            Semoga rahmat, hidayah, dan keberkahan Allah selalu tercurahkan kepada kita semua.

 

            Bulan Dzulhijah merupakan salah satu bulan yang istimewa bagi seluruh umat Islam. Bulan yang terdapat salah satu peristiwa penting dan bersejarah bagi umat Islam dan peritiwa tersebut pada akhirnya dikenang dengan peringatan Idul Adha.

            Hari ini kita merayakan hari besar umat Islam yang disebut dengan “Idul Adha”, disebut demikian karena pada perayaan ini umat Islam menyembelih hewan untuk kemudian dibagi kepada masyarkat. Hewan ini disembelih dengan tujuan pendekatan diri kepada Allah SWT; itulah kenapa hari ini juga kita sebut Hari Raya Qurban. Kata qurban dalam bahasa Arab berasal dari kata qaruba (qaf, ra’, dan ba’) yang berarti dekat. Penambahan an pada akhir kata memberik makna lebih dekat, sangat dekat. Di sinilah indahnya, pemilihan kata qurban untuk hewan yang kita sembelih, supaya mempunyai makan sembelihan yang diniatkan untuk kedekatan kita kepada Allah. Maka tidak berlebihan, kalau hari ini kita sebut adalah perayaan kedekatan kita kepada Allah SWT.

            Memberikan yang baik dan memperbaiki apa yang diberikan dalam bahasa Arab disebut dengan Ahsana – yuhsinu, perbuatannya disebut dengna ihsan; sedangkan orang yang melakukannya disebut dengan muhsin, jika banyak banya menjadi muhsinun. Melakukan perbuatan ihsan mengharuskan kita memberikan lebih dari apa yang biasa dilakukan. Ihsan lebih tinggi dari berbuat adil, karena adil adalah memberi kewajiban kita, dan mengambil apa yang menjadi hak kita, namun ihsan adalah memberi lebih dari kewajiban kita, dan mengambil lebih sedikit dari jatah kita. Perbuatan yang seperti ini tidak mungkin dilakukan kecuali kita dekat dengan Allah dan kedekatan ini menjadikan kita selalu merasa melihat Allah atau dilihat Allah.

Dengan ini kata Qurban yang berarti kedekatan dengan Ihsan sebuah perbuatan yang selalu terbaik menjadi dua kata yang saling terikat. Hal ini karena hanya orang yang dekat dengan Allah yang akan memberi yang terbaik; dan orang yang dekat dengan Allah akan selalu merasa melihat Allah atau dilihat oleh Allah. Maka bagi mereka, bagaimana mungkin seorang hamba berani memberi yang jelek padahal dia dekat atau merasa dekat dengan Allah. Bagi mereka tidak masuk akal sehat, seseorang yang tidak malu memberi yang jelek padahal Allah yang Maha Melihat baik yang nampak maupun yang ada dihatinya.

Keimanan pada tingkat ihsan ini akan mengantarkan kita kepada kepasrahan total kepada Allah SWT. Keadaan ini dicontohkan dengan kisah Nabi Ibrahim dan keluarga yang kemudian menjadi Syariat Haji dan kurban bagi kita umat Muhammad saat ini. Kisah keimanan dan kepasrahan total kepada Allah dimulai ketika Nabi Ibrahim bersama sayyidah Hajar diperintahkan pergi ke Mekkah sebuah tempat yang gersang tidak ada apapun. Tatkalah Ismail kemudian menangis kehausan, sayyidah Hajar berlari kecil dari bukit shafa dan Marwah sebagai bentuk ikhtiyar terbaik yang mungkin dilakukan. Peristiwa ini kemudian diabadikan dalam bentuk ritual ibadah sa’i dalam haji. Puncaknya adalah tatkalah Nabi Ibrahim diuji untuk menyembelih putra yang paling disayanginya, syetanpun mengganggu Nabi Ibrahim; Nabi Ibrahim kemudian melempar dengan batu; pelemparan ini kemudian kita kenal dengan lempar jumrah; akhirnya; ujian keimanan dan kepasrahan ini diganti dengan seekor kambing besar oleh Allah, dan ibadah ini sekarang kita rayakan dengan sebutan hari raya idul adha atau hari raya qurban.

Dari kisah ini, perayaan Qurban hari ini mempunyai makna sebagai pesta bagi orang-orang yang percaya sepenuhnya kepada Allah sehingga dia pasrah total dengan mengorbankan yang terbaik yang Allah berikan kepadanya. Hari ini dan tiga hari tasyriq kemudian, mereka megumandangkan dengan segenap suka cita bahwa Allah yang Maha Besar, tiada tuhan selain Allah dan segala puji hanya bagiNya.

Pada akhirnya kelak, semua akan kembali pada Allah SWT. Tuhan yang maha menguasai segalanya. Selagi kita masih diberi kesempatan hidup di dunia, seyogyanyalah kita memanfaatkan kesempatan kita sebaik-baiknya untuk beramal dan beribadah kepada Sang Ilahi Robbi.

 

* Guru Bahasa Indonesia SMAN 7 Kediri

Back To Top